Edi Yanto (何 萬 新)

Bersyukurlah…. (4 Skenario)

Posted on: March 23, 2009


Skenario 1
Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong tersebut. Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk  menggoyang-goyangkan kaki.  Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh. Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya  kepada kita.  “Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,”  kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita. Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?  Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.

Skenario 2
Sekarang kita beralih kepada skenario kedua.  Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya.  Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung  memberikannya kepada kita.  Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari  handphone kita hilang. Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone  kita sambil berkata,  “Pak, handphone bapak barusan jatuh nih.”  Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut? Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut.  Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa  terima kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang  yang langsung memberikan handphone itu kepada kita).  Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3
Marilah kita beralih kepada skenario ketiga. Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita  menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun  dari kereta.  Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap  ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia  mengembalikannya kepada kita. Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak  memberikannya kepada kita) menjawab telepon kita.  “Halo, selamat siang, Pak.  Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang,” kita mencoba  bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan  handphone itu kembali kepada kita.  Orang yang menemukan handphone kita berkata,  “Oh, ini handphone bapak ya.  Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut.  Biar bapak ambil di sana nanti ya.” Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun  berikut dan menemui “orang baik” tersebut.  Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.  Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut? Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan seperti nya  akan lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua  bukan?  Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada  orang yang menemukan handphone kita tersebut.

Skenario 4
Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat. Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun  dari kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita  mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.  Sampai akhirnya kita tiba di rumah. Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS :
“Bapak / Ibu yang budiman.  Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang.  Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat  mengembalikan handphone itu kepada saya.  Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. ”
SMS pun dikirim dan tidak ada balasan.  Kita sudah putus asa. Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam  handphone kita.  Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya.  Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone  kita menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan  handphone tersebut. Bagaimana kira-kira perasaan kita?  Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang  diberikan oleh orang itu.  Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita.  Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut? Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan  mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih  berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario  ketiga).

Moral of the story
Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas? Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan  ada orang yang menemukannya.
Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita.  Kita berikan dia ucapan terima kasih.
Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita  turun dari kereta.  Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.
Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun  dari kereta.  Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.
Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah  itu baru mengembalikannya kepada kita.  Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.
Ada sebuah hal yang aneh di sini.  Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling  baik?  Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita,  bukan?  Dia adalah orang pada skenario pertama. Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara  empat orang di atas.   Manakah orang yang paling tidak baik?  Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita  menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita  tersebut selama itu. Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling  besar.
Apa yang sebenarnya terjadi di sini?  Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus,  tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan  banyak, kita berikan lebih sedikit. OK, kenapa bisa begitu? Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap  skenario. Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum  sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali. Pada skenario kedua, kita juga sudah mulai merasakan kehilangan karena saat  itu kita baru sadar, dan kita sudah membayangkan rasa kehilangan yang  mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari  kereta. Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama  kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone  kita kembali. Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu. Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang  yang menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada  kita. Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai  handphone yang kita miliki.

Kesimpulan  saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri? Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah,  kesempatan bekerja, atau suatu hal lain. Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman  kita.  Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa. Saat itulah, kita baru dapat mensyukuri segala sesuatu yang telah  hilang tersebut.
Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat  bersyukur? Sebaiknya tidak. Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu  masih ada.  Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah  lenyap dari diri kita. Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh.  Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh. Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan.  Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.
Terlebih lagi kehilangan seseorang yg dikasihi & mengasihi kita untuk seumur hidup/selamanya… Seperti ada kata2 di film Korea bilang, adalah orang yang paling malang di dunia…

source: email from beth (ES)

Tags:

3 Responses to "Bersyukurlah…. (4 Skenario)"

nice post. but im still curious where this story come from? http://www.yauhui.net/4-macam-skenario-untuk-anda/ might be? im not sure??? would u tell me this good morale story belongs to?

Like

this story comes from an email sent by my friend beth (ES).

Like

bagus, perbandingn yang baik.. memang begitu biasanya kita setelah kesusahan baru butuh. waktu ngak kesusahan, santai2 aja…

Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,368 other followers


Edi Yanto
Oracle Applications Technical Consultant
View Edi Yanto's profile on LinkedIn

My Certifications






Follow me on Twitter

Archives

March 2009
M T W T F S S
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Visitors

Categories

Blog Stats

  • 140,586 hits

Users Online

web counter

Pages

%d bloggers like this: